SAMARINDA – Meski Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah menyediakan fasilitas parkir resmi di Teras Samarinda, banyak pengunjung tetap memilih parkir di kawasan tidak resmi. Kebiasaan ini menjadi tantangan dalam pengelolaan fasilitas publik yang dirancang untuk kenyamanan bersama.
Teras Samarinda, destinasi baru di tepian Sungai Mahakam, kini menjadi daya tarik warga Kota Tepian. Kendati begitu, perilaku parkir liar masih marak terjadi, meski pengunjung harus membayar lebih mahal kepada juru parkir tidak resmi dibandingkan tarif parkir resmi.
Ketua Komisi VI DPRD Kota Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie menilai, perilaku ini dipengaruhi oleh kebiasaan masyarakat yang mencari kenyamanan. Menurutnya, meski fasilitas resmi mencukupi, kesadaran untuk menggunakan fasilitas yang ada masih rendah.
“Pengunjung sering memilih parkir liar karena lebih dekat dengan lokasi, meskipun itu berarti membayar lebih mahal. Padahal, fasilitas resmi lebih aman dan tertib,” kata Novan.
Ia juga mendorong perubahan pola pikir masyarakat, dengan menjadikan parkir resmi sebagai kebiasaan baru yang tidak hanya mendukung keteraturan, tetapi juga gaya hidup sehat.
“Parkir di tempat resmi sering kali membutuhkan sedikit berjalan kaki, dan ini adalah langkah kecil yang bisa membantu masyarakat lebih aktif bergerak. Pejabat dan tokoh masyarakat juga harus memberikan contoh yang baik,” tambahnya.
Pemerintah Kota Samarinda berkomitmen untuk terus memperbaiki dan menambah kapasitas parkir di kawasan tersebut. Namun, tantangan terbesar tetap ada pada perubahan kebiasaan masyarakat untuk mendukung keteraturan dan pemanfaatan fasilitas publik yang sudah disediakan.
Penulis: Asrida