Menteri Baru, Nasib Kurikulum Merdeka Belajar Dipertanyakan

Mendikdasmen, Abdul Mu'ti.(ISTIMEWA)

Caption: Mendikdasmen, Abdul Mu'ti.(ISTIMEWA)

JAKARTA – Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti akan nasib program Merdeka Belajar sangat dinanti-nanti oleh publik. Pasalnya, banyak pro dan kontra dengan adanya kurikulum ciptaan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makrim.

Dilansir melalui detik.com, Abdul Mu’ti menyatakan akan mengkaji kembali sejumlah kebijakan program Merdeka Belajar. Seperti ujian nasional, kebijakan zonasi dan Kurikulum Merdeka.

“Jadi soal ujian nasional, soal zonasi, kurikulum merdeka, apalagi yang sekarang masih menjadi perdebatan. Nanti kita lihat semuanya secara sangat seksama dan kami akan sangat berhati-hati,”kata Mu’ti usai serah terima jabatan, Senin (21/10/2024) lalu.

Ternyata, sebelum ia menjadi Mendikdasmen, ia memang pernah mengkritik program Merdeka Belajar ini. Kritikan tersebut ketika di acara Perspektif Baru yang disiarkan Perspektif Wimar TV pada September 2022 lalu.

Mu’ti menilai kebijakan yang dibuat Nadiem Makarim dengan jargon Merdeka Belajar tidak menimbulkan dampak yang serius terhadap perubahan kualitas pendidikan.

“Bahkan kemudian menimbulkan berbagai persoalan baru. Kebijakan ini menurut pandangan saya tidak memiliki konstruksi filosofis dan tidak memiliki konstruksi kultural yang kuat,”kritiknya.

Menurut Mu’ti, Merdeka Belajar bukanlah konsep baru jika dilihat secara filosofis dalam konteks dunia pendidikan. Dikarenakan Bapak Pendidikan Indonesia yang juga Menteri Pengajaran pertama Ki Hajar Dewantara telah meletakkan dasar-dasar Merderka lewat pendidikan Taman Siswa.

“Tetapi konsep Merdeka Belajar Ki Hajar Dewantoro ini sepertinya tidak ditangkap secara utuh oleh timnya Mas Nadiem,”ucap guru besar bidang Pendidikan Agama Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Mu’ti mengungkapkan Merdeka Belajar dalam konteks konsep Ki Hajar memiliki makna bahwa pendidikan merupakan sarana untuk memerdekakan manusia menjadi manusia merdeka. Esensi dari pendidikan terletak pada makna tersebut.

Karena itu, menurut Mu’ti, melakukan upaya-upaya liberasi merupakan pembeda antara seorang berilmu dengan seorang tidak berilmu.

“Liberasi bukan liberalisasi. Nah yang sekarang ini terjadi nampaknya liberasi itu berubah menjadi liberalisasi yang itu secara filosofis dan dalam konteks pendidikan sangat jauh berbeda,” katanya.
Selain itu pula, konteks pembelajaran Merdeka Belajar juga tertuang dalam teori pendidikan humanistik sejak 1960-an, dimana psikolog Carl Rogers mengenalkannya sebagai _freedom_ _to_ _learn_.

“Dengan psikolog humanistik itu ya memang orang itu merdeka belajar, bisa belajar apa saja dan kemudian bisa memilih apa yang ingin dia pelajari.”

“Dia juga tidak boleh belajar dalam suasana yang tertekan sehingga dia harus enjoy. Belajar pun harus dalam suasana yang menyenangkan,”paparnya.

Ia juga melihat Merdeka Belajar sangat terpengaruh oleh aliran di mana pendidikan itu dikendalikan oleh pasar.”Pendidikan ini sepertinya sangat didominasi oleh orientasi pekerjaan,”tutupnya.(*)

Ikuti VOXnews di Google Berita

.

Bagikan berita ini:

-

VOXnews